Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Kamu (bukan) tujuanku

Aku memiliki teman baru, teman bermain, teman bercanda, teman belajar dan mungkin teman curhat. Dia lawan jenis ku, awal bertemu dengan dia aku merasa begitu akrab. Seperti teman lama yang bertemu kembali banyak cerita yang kita bicarakan, banyak ocehan yang kita lontarkan. Hari itu aku mengenal nya sebagai seorang yang menyenangkan. Hari demi hari, seperti biasa dia selalu mengganggu ku dengan kelakuan nya, kelakuan konyol yang membuat aku tersenyum, membuat aku tertawa tapi terkadang membuat aku kesal dan marah. Ya itu lah dia bisa membuat suasana kembali menyenangkan. Tapi entah seminggu setelah nya dia tiba-tiba menjauh. Sampai saat ini aku juga tidak tau apa alasan nya, ingin bertanya tapi tak enak dilihat. Seperti ada rasa kesal tiap dia dekat dengan orang lain. Padahal aku tau dia bukan tujuanku. Sebulan telah berlalu, ada satu kegiatan dimana aku harus bersama dia setiap hari. Ya setiap hari. Bertemu, bertegur sapa, dan akhirnya aku menjadi bahan kejailan dia seti...

Jika tak sungguh, tak perlu singgah.

Ini aku. Cerita tentangku. Bahkan bukan aku sendiri. Tapi aku dan dirimu... Seperti orang lain yang memulai kisah nya dengan indah dengan seseorang yang dia sayangi, begitu pun aku dengan mu Kita? ya aku dan kamu berkenalan dengan begitu indah namun begitu singkat. Terlalu singkat bahkan ya terlalu singkat yang aku rasakan, hingga kita telah memulai membuat komitmen saja.  Komitmen untuk saling menjaga antara aku dan kamu. Yang aku rasakan begitu indah,sangaaaatttt indah. Tapi waktu tak setuju dengan itu, waktu begitu singkat aku rasakan. Hingga aku merasa kamu telah berubah. Entah apa yang membuat kamu berubah awalnya. Dan akhirnya aku tau apa alasan mu. Dan aku hanya bisa menjawab " Jika tak sungguh, Tak perlu singgah!"

Seperti itukah?

Sebentar lagi tidak ada sapaan di pagi hari Atau sebentar lagi chat akan berubah seperti layaknya wawancara yang dimana aku yang selalu bertanya dan kamu yang selalu menjawab. Mungkin, perlahan kamu akan menemukan orang yang bisa bikin kamu bahagia layaknya kriteria orang yang kamu mau. Dan ahirnya perlahan kamu akan menemukan orang yang bisa membuatmu nyaman jika kamu tetap berada bersama dia. Perlahan bayanganku dibenakmu hilang. Kau akan bosan bersamaku dan lebih memilih orang lain yang berada di dekatmu. Perlahan kau akan menjalani ini semua bersamaku secara terpaksa. Dan mungkin, perlahan kau akan meninggalkan aku bersama dengan kenangan yang sudah kita buat bersama. 20/6

Takut!

Aku memulai semua ini dengan rasa takut.  Rasa takut akan diriku sendiri bahkan kamu. Takut yang kian hari kian terasa,  karena aku belum terbiasa bersama tapi berjarak. Belum terbiasa bersama tapi tak saling tatap. Bersama tapi tak saling sapa. Rasa takut yang kian menyeruak. Kian meronta.  Bahkan terus meluap. Tapi anehnya hanya kamu yang dapat menenangkan hati. Kamu yang bisa meredam takut, Dan kamu yang membuat rasa percaya kian tumbuh semakin besar. Hingga aku semakin kehilangan rasa takutku. Akhirnya semakin tenang dan damai. Aku yang selalu ingin membuatmu nyaman. Tapi selalu gagal Membuatmu tersenyum. Tapi malah sebaliknya Dan merusak semua harapan yang kau ingin dapatkan. Hingga saatnya kini aku kembali merasakan rasa takut itu hadir. Hadir dalam hidup ku. Hadir dalam hatiku. Tapi kali ini, memang benar-benar aku takut.  Takut akan kehilangan seseorang yang selama ini terasa dekat walau berjarak. Kehilangan orang yang selalu menyapa...

Saya menyerah!

          Sejak saat itu saya mengerti dan akhirnya mulai sekarang saya tidak akan berbalik arah, tak lagi mengejar kamu yang jalan nya tak searah. Saya sadar, mungkin kehadiran saya hanya menjadi pengganggu dihidupmu, bukan? Seorang yang selalu menuntut kepastian dari dirimu lewat kalimat sederhana, ya kan? Jika itu mengganggumu, saya minta maaf. Karena memang dari kalimat sederhana itu saya mampu bercerita, menumpahkan sebagian cerita kita, kenangan kita dan tuntutan rindu akan kehangatan dirimu.           Tapi jika itu memang menggangu, saya sekali lagi minta maaf. Dan mulai sekarang. Saya akan pergi, tak mengganggumu lagi dengan cara sederhana saya, tak menggantung harap pada bayangmu lagi, tak menuntut kepastian pada dirimu–yang nyatanya memang tak pernah mencintaiku. Oh nyatanya dulu saya keliru, sangat keliru.           Saya tidak menyerah akan keadaan, dan saya tidak putus asa terhadap dirimu. K...

Bagaimana Kamu?

Mr.An? Apa kabar? Aku harap kau bahagia dengan nya. Sama hal nya dengan aku. Aku sangat bahagia. Kau tak perlu merasa cemas bahkan tak suka dengan kehadiranku. Saat ini aku bahagia. Telah ada sesorang yang menemuiku saat ini. Seseorang yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku. Seperti doa kau dahulu. Yang berharap akan ada seseorang seperti dia. Yap! Terimakasih atas doamu dulu. Terima kasih telah meninggalkanku dengan rasa sakit. Luka mu telah disembuhkan nya saat ini. Tak perlu khawatir. Air mata ku takkan kembali menetes saat mengucap namamu. Terimakasih. Caramu dahulu meninggalkanku adalah cara terbaik yang tuhan berikan, karena akhirnya dia menemukanku. [14.59]

Selalu saja aku.

Itu Aku! Sering berpura-pura agar merasa tak ada apa-apa. Merasa tak ada hal yang mengganjal di dalam hati. Tapi ternyata hati nya tergores. Itu Aku! Yang mendengar kamu menyatakan sudah selesai. Tapi aku tetap mengingatmu. Aku.. Berusaha dan terus mengatakan tak mencintaimu lagi. Tapi terus saja membicarakanmu. Dan aku.. Selalu menggangap semua ini telah selesai. Tapi tetap saja ada air mata. Amn-21.36