Ku kira selama ini kamu pilihan terakhir.
ku kira kamu yang selama ini aku tunggu.
Tanpa pertemuan, tanpa saling menggemgam satu sama lain, tanpa harus pengakuan kamu, aku sudah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada pembicaraan pertama kita, jatuh cinta pada tatapan pertama dari telpon selulerku, jatuh cinta pada sifatmu yang seolah memiliki dua kepribadian. Hanya kamu yang bisa membuatku tertawa dan menangis diwaktu yang tak berselang lama.
Namun,
Akhirnya aku tau.
Akhirnya aku mengerti, dan seharusnya menerima jika aku tak pernah kau anggap ada selama ini, aku yang kamu jadikan seorang teman untuk menghapus seluruh keluh kesahmu. Aku yang kamu lihat sebagai teman obrolan mu untuk menghapus rasa lelahmu.
Setelah kamu selesai, kamu bisa pergi sepuasnya dan kembali esok dengan cerita baru.
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghiburmu?
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghapus laramu?
Untuk apa aku hadir jika selama ini pikiran mu penuh dengan orang lain?
Jika kedekatan kita saat ini hanya untuk membuat kita saling menyembuhkan luka lama karena orang lain, aku harap kita tak akan benar-benar bertemu, tidak akan benar-benar bertatap wajah.
Karena saat kita benar-benar sembuh dari luka lama maka salah satu dari kita akan menerima luka baru, luka baru darimu.
Ya tentu aku yang akan terluka.
Aku terluka karena aku terlalu yakin kamu, karena aku terlalu besar kepala.
Kamu tentu tau akhir ceritanya, Aku kalah
Dan bodohnya aku tidak bisa memahami dan menerima kekalahanku lalu memilih bertahan.
Meski tetap hingga kini itu bukan untukku,
aku hanya sedekar teman untuk saling berbagi cerita. -amr
ku kira kamu yang selama ini aku tunggu.
Tanpa pertemuan, tanpa saling menggemgam satu sama lain, tanpa harus pengakuan kamu, aku sudah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada pembicaraan pertama kita, jatuh cinta pada tatapan pertama dari telpon selulerku, jatuh cinta pada sifatmu yang seolah memiliki dua kepribadian. Hanya kamu yang bisa membuatku tertawa dan menangis diwaktu yang tak berselang lama.
Namun,
Akhirnya aku tau.
Akhirnya aku mengerti, dan seharusnya menerima jika aku tak pernah kau anggap ada selama ini, aku yang kamu jadikan seorang teman untuk menghapus seluruh keluh kesahmu. Aku yang kamu lihat sebagai teman obrolan mu untuk menghapus rasa lelahmu.
Setelah kamu selesai, kamu bisa pergi sepuasnya dan kembali esok dengan cerita baru.
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghiburmu?
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghapus laramu?
Untuk apa aku hadir jika selama ini pikiran mu penuh dengan orang lain?
Jika kedekatan kita saat ini hanya untuk membuat kita saling menyembuhkan luka lama karena orang lain, aku harap kita tak akan benar-benar bertemu, tidak akan benar-benar bertatap wajah.
Karena saat kita benar-benar sembuh dari luka lama maka salah satu dari kita akan menerima luka baru, luka baru darimu.
Ya tentu aku yang akan terluka.
Aku terluka karena aku terlalu yakin kamu, karena aku terlalu besar kepala.
Kamu tentu tau akhir ceritanya, Aku kalah
Dan bodohnya aku tidak bisa memahami dan menerima kekalahanku lalu memilih bertahan.
Meski tetap hingga kini itu bukan untukku,
aku hanya sedekar teman untuk saling berbagi cerita. -amr
Comments
Post a Comment