Skip to main content

Nyatanya, bukan untukku.

Ku kira selama ini kamu pilihan terakhir.
ku kira kamu yang selama ini aku tunggu.
Tanpa pertemuan, tanpa saling menggemgam satu sama lain, tanpa harus pengakuan kamu, aku sudah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada pembicaraan pertama kita, jatuh cinta pada tatapan pertama dari telpon selulerku, jatuh cinta pada sifatmu yang seolah memiliki dua kepribadian. Hanya kamu yang bisa membuatku tertawa dan menangis diwaktu yang tak berselang lama.
Namun,
Akhirnya aku tau.
Akhirnya aku mengerti, dan seharusnya menerima jika aku tak pernah kau anggap ada selama ini, aku yang kamu jadikan seorang teman untuk menghapus seluruh keluh kesahmu. Aku yang kamu lihat sebagai teman obrolan mu untuk menghapus rasa lelahmu.
Setelah kamu selesai, kamu bisa pergi sepuasnya dan kembali esok dengan cerita baru.
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghiburmu?
Untuk apa aku hadir jika aku hanya sebagai penghapus laramu?
Untuk apa aku hadir jika selama ini pikiran mu penuh dengan orang lain?
Jika kedekatan kita saat ini hanya untuk membuat kita saling menyembuhkan luka lama karena orang lain, aku harap kita tak akan benar-benar bertemu, tidak akan benar-benar bertatap wajah.
Karena saat kita benar-benar sembuh dari luka lama maka salah satu dari kita akan menerima luka baru, luka baru darimu.
Ya tentu aku yang akan terluka.
Aku terluka karena aku terlalu yakin kamu, karena aku terlalu besar kepala.
Kamu tentu tau akhir ceritanya, Aku kalah
Dan bodohnya aku tidak bisa memahami dan menerima kekalahanku lalu memilih bertahan.
Meski tetap hingga kini itu bukan untukku,
aku hanya sedekar teman untuk saling berbagi cerita. -amr



Comments

Popular posts from this blog

Aku kecewa.

Aku kehilangan arti dari kata bersama, Nyatanya itu hanya pemanis agar aku tak berteman sepi. Lantas saat aku membutuhkanmu justru kau tiada. Nampaknya itu tak adil. Seharusnya kau dan aku saja sudah cukup Karena kita hanya saling menyakiti bukannya saling memahami. Salam, Amr

Untuk mu,ini pesanku. .

Ditinggal berkali-kali aku sudah biasa. Tanpa pesan pun aku sudah pernah. Kutahu kau lelah, ingin-ku kau sepertiku, tak kenal menyerah. Usahaku kau lihat, kau rasakan. Aku yakin itu. Sekalipun tetap saja kau tinggalkan aku. Tetap saja kau tak peduli denganku. Aku berusaha bertahan, bertahan bersama keadaan yang memaksa, bertahan dengan alunan waktu. Usahaku tak pernah kau gubris, sekalipun aku di dekatmu sikap mu tak akan pernah berubah. Rasamu tak pernah sehangat dulu. Senyum mu tak semanis dulu. Dan canda mu tak semenyenangkan dulu. Tapi aku tetap bertahan. Aku tau kamu bukan tak ingin searah dengan ku, tak mau berjalan denganku. Kamu hanya berjalan menyamping, sedikit menjauh dan akhirnya kita hanya berteman. Biarkan aku berjalan dalam keadaan ini, biarkan aku mengira semua yang terjadi seperti anganku. 5.12 PM

Selalu saja aku.

Itu Aku! Sering berpura-pura agar merasa tak ada apa-apa. Merasa tak ada hal yang mengganjal di dalam hati. Tapi ternyata hati nya tergores. Itu Aku! Yang mendengar kamu menyatakan sudah selesai. Tapi aku tetap mengingatmu. Aku.. Berusaha dan terus mengatakan tak mencintaimu lagi. Tapi terus saja membicarakanmu. Dan aku.. Selalu menggangap semua ini telah selesai. Tapi tetap saja ada air mata. Amn-21.36